STUDI PENGARUH SALINITAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN FISIOLOGI KANGKUNG (Ipomoea aquatica Forsk)

Pendahuluan
Kangkung, bahasa inggrisnya Water Spinach (Ipomoea aquatica Forsk) merupakan sayuran yang popular di tengah masyarakat, terutama karena harganya yang sangat terjangkau, bahkan oleh keluarga miskin. Kangkung ternyata sering diberikan sebagai makanan wajib bagi pasien-pasien yang menderita kurang darah karena tinginya kadar besi dalam jaringannya.
Tanaman kangkung biasanya ditanam di dataran rendah, umumnya di pesisir pantai, dimana air kolam yang digunakan sebagai tempat tumbuhnya berasal dari dataran tinggi. Air kolam biasanya telah tergarami (salted) oleh residu-residu pertanian seperti pupuk, pestisida-insektisida dan material budidaya pertanian lainnya. Hal ini mengapa sistem pertanian kangkung sebetulnya tidak dapat dipisahkan dari permasalahan salinitas.
Terdapat hasil penelitian
pada tanaman kerabat kangkung, ubi jalar, bahwa konsentrasi garam NaCl yang rendah, yaitu pada pada rentang 15-20 mM, menyebabkan peningkatan bobot kering dan kandungan klorofil (Umboh, et al, 1997).

Secara fisik, tanaman yang diberi perlakuan garam NaCl konsentrasi rendah memiliki tajuk yang pertumbuhan dan penampilannya baik, hal ini memunculkan ide menarik untuk melakukan percobaan penerapan garam NaCl konsentrasi rendah pada tanaman-tanaman yang bagian ekonomisnya adalah bagian tajuk, seperti halnya sayur-sayuran, dalam hal ini sayur kangkung.

Permasalahan

  • Hingga saat ini, masih sangat jarang informasi ilmiah mengenai pengaruh salinitas terhadap kangkung. 
  • Bagaimana pengaruh garam NaCl konsentrasi rendah terhadap kandungan besi dan mikro nutrient lainnya? Hal ini manjadi menarik untuk diteliti.
Tujuan Penelitian
  • Mempelajari respon pertumbuhan dan fotosintesis kangkung terhadap salinitas konsentrasi rendah, dalam hal ini NaCl.
  • Mempelajari pengaruh garam konsentrasi rendah terhadap kandungan mineral kangkung.
Metode
  • Untuk mempertahankan akurasi konsentrasi perlakuan garam NaCl, tempat tumbuh sebaiknya dalam bentuk tangki hidroponik. Anjuran ukuran tangki: panjang x lebar x tinggi = 40 x 30 x 20 cm.
  • Setiap tangki diisi 30 liter air. Konsentrasi akhir dari nutrient di dalam tangki, dalam satuan mg/l, adalah: N 240, P 40, K 360, Ca 200, Mg 65, Fe 4, Mn 0.7, Zn 0.1, Cu 0.04, Cl 10, B 0.6, and Mo 0.02, sebagaimana digunakan oleh Sun and Wu (1998). 
  • pH larutan dipertahankan pada 6.5 ± 0.1. 
  • Polystyrene foam (polyloam) berlbang digunakan sebagai penopang tanaman di atas kultur larutan. 
  • Kultur larutan diaerasi secara kontinyu dengan blower dan aerator.
Variabel Data
Data yang diukur untuk analisis statistic:
  • Luas daun: diukur langsung dengan Leaf Area Meter. 
  • Bobot kering tanaman: penimbangan setelah pengeringan selama 48 jam pada shu 80 oC. 
  • Kandungan mineral: Fe, Mg, K, NA, (dengan metode AAS), Cl (dengan metode titrasi).
  • Kandungan klorofil: ditentukan dengan metode spektrofotometer dalam aseton 80% yang digunakan oleh Arnon (1959).
Analisis data
Uji F dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).



Literatur

Arnon, D.I. 1959. Copper enzymes in isolated chloroplast, polyphenol oxidase in Beta vulgaris. J. of Plant Physiol., 24:1-15. 

Sun, E.J. and F.Y. Wu. 1998. Along-vein necrosis as indicator symptom on water spinach caused by nickel in water culture. Bot. Bull. Acad. Sin. 39:255-259.

Umboh, A.H., S. Yahya, D. Sopandie, and A. Hartana. 1997. Growth physiological responses of sweet potato (Ipomoea batatas (L.) Lam.) to salinity: 2. Distribution of Leaf Chlorophyll and Plant Dry Weight. Eugenia, 3(4):222-232.




No comments:

Post a Comment